Multi Supranatural Of Java

Estineng Cipto Marganing Mulyo

Rabu, 02 Agustus 2017

SURAT YASIN AYAT 1 SAMPAI 10


Surah Yaa siin 1 

يس (1) 

Pada surah-surah sebelumnya telah dibicarakan mengenai awal surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad, yang pada kesimpulannya disebutkan bahwa pendapat yang terkuat menetapkan huruf-huruf abjad itu dimaksudkan sebagai peringatan untuk membangkitkan minat orang yang membacanya kepada hal-hal penting yang akan disebutkan dalam ayat-ayat sesudahnya. Akan tetapi dari riwayat Ibnu `Abbas diperoleh keterangan bahwa "Ya Sin" bermakna "Ya Insan" (Wahai manusia) yakni wahai Muhammad. Demikian pula pendapat Abu Hurairah, Ikrimah, Dahhak, Sofyan lbnu Uyainah dan Said Ibnu Jubair: "Ya Sin" itu kata mereka berasal dari logat Habsyah. Sedang Malik yang meriwayatkan dari Zaid bin Aslam menyebutkan arti Ya Sin ialah kependekan dari nama-nama Allah. Ada lagi yang berpendapat "Ya Sin" ringkasan dari kalimat "Ya Sayidah Basyar", yakni Nabi Muhammad sendiri. Atau ia adalah salah satu nama dari Alquran. 
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yaa siin 1 

يس (1) 

(Yaa siin) hanya Allahlah yang mengetahui maksudnya.

Surah Yaa siin 2

 Demi Al quran yang penuh hikmah,(QS. 36:2)

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (2) 

Allah bersumpah dengan Alquran yang penuh hikmah. Ada beberapa arti hikmah yang disarikan dari pendapat-pendapat ahli tafsir yakni : Lafal "hikmah" di sini muhkam, berarti yang telah pasti benarnya, dan tidak mungkin terdapat di dalamnya sesuatu yang batil (tidak benar) baik makna Lafal, tujuan, hikmah, kisah, hukumnya, dan lain-lain walaupun ditinjau dari segi apapun. "Hakim" adalah suatu sifat yang dimiliki oleh orang yang berakal (cerdas). Demikianlah halnya Alquran, dengan hikmah yang dikandungnya memberi bekal kehidupan manusia untuk menyucikan hati mereka dan memberi rasa kepuasan rohani, yang dengan kesucian hati dan kejernihan pikiran itu terbukalah rahasia-rahasia yang terkandung dalam alam ini. Alquran memberi bimbingan hidup yang penuh dengan kebijaksanaan, segala ajarannya berjalan harmonis dengan jalan pikiran yang sehat dan kehendak nafsu yang terkendalikan, yakni jalan pikiran yang menuju ke arah kemaslahatan.

sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,(QS. 36:3)

Surah Yaa siin 4
 
(yang berada) di atas jalan yang lurus,(QS. 36:4)

عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (4) 

(Yang berada di atas) berta'alluq kepada ayat sebelumnya (jalan yang lurus) jalannya para nabi sebelum kamu, yaitu jalan tauhid dan hidayah. Ungkapan yang memakai kata pengukuh sumpah dan pengukuh lainnya, dimaksud sebagai sanggahan terhadap perkataan orang-orang kafir yang ditujukan kepada Nabi Muhammad, yaitu sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya, "Kamu bukan seorang yang dijadikan rasul." (Q.S. Ar-Ra'd 43.)

(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Penyayang,(QS. 36:5)

Yaa siin 5 

تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (5) 

Agama Islam yang Alquran sebagai kitabnya itu berada pada garis yang lurus, turunnya dari Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Pengasih pada sekalian hamba Nya. Ayat ini dengan tegas menentukan kedudukan Alquran. yakni kitab suci yang berasal dari Allah, bukan kitab suci hasil karangan dan ciptaan manusia. Allah telah menyatakan kepada para hamba Nya agar memahami hakikat kitab suci yang diturunkan Nya, yaitu dari Zat Yang Maha Perkasa yang mengerjakan apa yang dikehendaki Nya, tetapi Dia juga Maha Penyayang kepada hamba Nya, dan kasih sayang itu tertuang dalam Alquran yang mengandung rahmat bagi manusia sekalian. Arti yang serupa dengan ayat ini adalah: 

وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم 

Artinya: 
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Q.S. As Syura: 52)

agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.(QS. 36:6)

Surah Yaa siin 6 

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ (6) 

Adapun hikmah diturunkannya Alquran itu antara lain untuk memberi peringatan kepada bangsa Arab yang belum pernah didatangi oleh Rasul, yang memberi kabar takut. Dalam ayat ini disebutkan kerusakan moril bangsa Arab dengan Lafal "lalai" yang menyebabkan kerusakan moral yang hebat, yang terdapat di dalam hati manusia. Hati yang lalai ialah hati yang tidak melaksanakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Mereka adalah bangsa Arab keturunan Ismail yang memang sebelumnya kepada mereka belum pernah dikirim seorang Rasulpun. Oleh karena itu mereka belum mengenal tata aturan (syariat) yang membawa manusia kepada kebahagiaan hidup bermasyarakat. Adapun lafal yang mengandung pengertian khusus ditujukan kepada bangsa Arab saja, tidak merubah maksud risalah yang sebenarnya, yakni tertuju kepada sekalian manusia, sebagaimana ditegaskan dalam ayat lain: 

قل يا أيها الناس إني رسول الله إليكم جميعا 

Artinya: 
Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua". (Q.S. Al A'raf: 158) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yaa siin 6 

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ (6) 

(Agar kamu memberi peringatan) dengan Alquran itu (kepada kaum) lafal Litundzira berta'alluq kepada lafal Tanziilun (yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan) mereka belum pernah diberi peringatan karena hidup di zaman fatrah atau zaman kekosongan nabi dan rasul (karena itu mereka) yakni kaum itu (dalam keadaan lalai) lalai dari iman dan petunjuk.

Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.(QS. 36:7)
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tengadah.(QS. 36:8)

Yaa siin 8 

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) 

Kemudian dilukiskan sebuah perumpamaan bagi orang-orang yang tidak mau beriman itu, seolah-olah belenggu telah di pasang di leher mereka, tangan diangkat sampai ke atas dagu. Hal demikian menyebabkan muka mereka selalu tertengadah. Demikianlah gambaran orang yang tidak beriman, karena dia tidak dapat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengambil perbandingan. Belenggu itu demikian eratnya, sehingga tidak memungkinkan kepalanya bergerak (mengangguk-angguk) sama sekali. Di ayat lain di jumpai pula keterangan: 

ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السماوات والأرض ومن فيهن بل آتيناهم بذكرهم فهم عن ذكرهم معرضون 

Artinya: 

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka, tetapi mereka berpaling dan kebanggaan itu. (Q.S. Al Mu'minun: 31) 
Menurut riwayat, ayat ini pada mulanya diturunkan sehubungan dengan niat Aba Jahal bersama dua orang rekannya berasal dari Bani Makhzum. Abu Jahal pernah bersumpah bila dia melihat Muhammad sedang salat di Baitulah, ia akan menjatuhkan batu besar ke atas kepalanya. Demikianlah pada suatu hari dilihatnya Nabi sedang sujud di tangannya sudah tersedia batu yang cukup besar. Ketika batu itu diangkatnya dan akan dilemparkan ke arah Nabi, yang sedang sujud itu, ia jadi ragu-ragu dan batu itu terlepas dari kepalan tangannya. Abu Jahal kembali kepada kaumnya dan menceritakan apa yang terjadi. Kemudian ada pula seorang Bani Makhzum karena tertarik dengan cerita Abu Jahal, bermaksud pula melempar Nabi waktu beliau akan salat. Ketika ia hendak melaksanakan niat jahatnya, Allah membutakan matanya. Ia kembali kepada kaumnya dalam keadaan buta, barulah ia mengenal siapa yang menegurnya waktu ia mendengar suara (orang yang memanggilnya). Dia menceritakan bahwa ketika hendak melaksanakan niatnya tiba-tiba muncul seekor binatang besar (unta?) yang siap hendak menerkamnya. Andaikata batu saya lemparkan juga, pastilah binatang itu menerkam saya. Ada yang mengatakan bahwa makna belenggu di sini adalah arti majazi (kiasan). Jadi maksudnya belenggu (penghalang) yang menghalangi niat seseorang untuk beriman kepada Allah SWT.

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.(QS. 36:9)

Yaa siin 9 

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) 

Kemudian digambarkan pula bahwa orang-orang yang tidak beriman itu memandang baik amal-amal jahat yang mereka kerjakan. Hal demikian menyebabkan mereka menjadi takjub dan sombong, sehingga mereka enggan mengikuti Rasul. Pikirannya tertutup dari kebenaran, dari apa yang dapat mendatangkan manfaat, karena itu tidaklah ada yang bisa mereka pahami kecuali apa yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka saja. Ringkasnya mereka selalu berada dalam penjara kebodohan, seolah-olah ada dinding tembok yang memisahkan mereka dengan hati mereka hingga tidak bisa berpikir dan merenungkan dalil-dalil kebenaran ajaran yang dibawa Rasul itu. Ada pula yang mengartikan dinding yang menghalangi itu dengan hijab, hingga berarti Allah menjadikan hijab yang menghalangi orang-orang musyrik untuk menyakiti Rasul. Sedang mata yang tertutup diartikan, mereka tidak bisa mengindra dengan baik sesuatu yang dilihatnya, dan tidak satupun petunjuk yang dapat meluruskan pikiran mereka.

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.(QS. 36:10)

Yaa siin 10 

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) 

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak bisa menerima petunjuk itu walaupun diancam Allah dengan siksaan yang keras ataupun tidak diancam namun semua pengajaran itu akan percuma saja. Sebab hati mereka sebenarnya sudah terpateri mati tidak dapat menerima petunjuk. Hal yang demikian disebabkan pikiran mereka tidak sanggup lagi memikirkan kebenaran yang disampaikan orang, dan mata mereka sudah buta dari kebenaran itu. Ringkasnya siapa yang telah ditetapkan Allah kesesatannya tidak mungkin lagi bermanfaat bagi dirinya sendiri segala nasihat yang disampaikan orang. Allah SWT berfirman: 

إن الذين كفروا سواء عليهم ءأنذرتهم أم لم تنذرهم لا يؤمنون ختم الله على قلوبهم وعلى سمعهم وعلى أبصارهم غشاوة ولهم عذاب عظيم 

Artinya: 

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Q.S. Al Baqarah: 6-7) 
Dan firman-Nya: 

إن الذين حقت عليهم كلمت ربك لا يؤمنون 

Artinya: 

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman. (Q.S. Yunus: 96) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yaa siin 10 

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) 

(Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka) dapat dibaca Tahqiq dan dapat pula dibaca Tas-hil (ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.)